Minggu, 27 Agustus 2017

ulumul qur'an

A. Pengertian Ulumul
Qur’an
Ulumul Qur’an terdiri
atas dua kata: ulum dan al-Qur’an. Ulum (علوم) adalah jamak dari kata tunggal
ilm (علم), yang secara harfiah berarti ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah nama
bagi kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan demikian, maka
secara harfiah kata ‘ulumul qur’an’ dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu
al-Qur’an.
1. Pengertian Ulum
Kata ulum (علوم)
merupakan bentuk plural dari dari kata tunggal ilm (علم). Kata ilm adalah
bentuk masdar (kata kerja yang dibendakan). Secara etimologis berarti al-fahmu
(paham), al-ma’rifah (tahu) dan al-yaqin (yakin).[2] Ketiga istilah tersebut
mengandung pengertian yang berbeda dan bisa dikaji lebih mendalam buku-buku
perbedaan kosakata bahasa Arab, seperti kitab al furuq al-lugawiyyah karya Abu
Hilal al-Askari.
2. Secara terminologis,
ilmu mempunyai definisi-definisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang
pendefinisi tersebut.[3] Para filosof mengartikan bahwasanya ilmu adalah konsep
yang muncul dalam akal maupun keterkaitan jiwa dengan sesuatu menurut cara
pengungkapannya. Para Teologis berpendapat bahwa ilmu adalah sifat yang bisa
membedakan sesuatu tanpa kontradiksi. Sedangkan orang-orang bijak mengartikan
ilmu sebagai gambaran sesuatu yang dihasilkan dari akal.[4]
Adapun menurut syara’,
ilmu adalah mengetahui dan memahami Ayat-ayat Allah dan lafalnya berkenaan
dengan hamba dan mahluk-makhluknnya. Dari situlah Imam Ghazali berpendapat
bahwasanya ilmu sebagai objek yang wajib dipelajari oleh orang Islam adalah
konsep tentang ibadah, akidah, tradisi dan etika Islam secara lahir dan
batin.[5]
Al-Qur’an menggunakan
kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain
firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 31-32 “proses pencapaian pengetahuan dan
objek pengetahuan” [6]. Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada
pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu disamping klasifikasi dan ragam
disiplinnya.[7] 
2. Pengertian Al-Qur’an
Kata al-Qur’an merupakan
bentuk Mashdar (kata kerja yang dibendakan), dengan mengikuti standar Fu’lan,
sebagaimana lafadz Gufran, Rujhan dan Syukran. Lafadz Qur’an adalah lafadz
Mahmuz, yang salah satu bagiannya berupa huruf hamzah, yaitu pada bagian akhir,
karenanya disebut Mahmuz Lam, dari lafadz:
Qara’a-Yaqra'[u]-Qirâ’at[an]-Qur’ân[an], dengan konotasi
Tala-Yatlu-Tilawat[an]: membaca-bacaan. Kemudian lafadz tersebut mengalami
konversi dalam peristilahan syariat, dari konotasi harfiah ini, sehingga
dijadikan sebagai nama untuk bacaan tertentu, yang dalam istilah orang Arab
disebut: Tasmiyyah al-maf’ul bi al-mas{dar, menyebut obyek dengan Masdarnya.
Konotasi harfiah seperti ini dinyatakan dalam firman Allah swt. dalam Q.S.
al-Qiyamah/75:16-17.
Terjemahnya: Janganlah
kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat
(menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[8]
Sebagian ulama berpendapat
bahwa kata al-Qur’an bukan lafadz Mahmuz (yang salah satu bagiannya berupa
huruf hamzah) dan tidak diambil dari pecahan kata قرأ.[9] Seperti Imam Syafi’i
(150-204 H), salah seorang imam mazhab yang terkenal, mengatakan bahwa kata
al-Qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah, serta tidak diambil dari pecahan
kata manapun (ghayr musytaqq). Ia adalah nama khusus yang dipakai untuk kitab
suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., seperti halnya dengan nama
Injil dan Taurat, yang masing-masing diberikan kepada nabi Isa dan nabi
Musa.[10]
Para ahli bahasa, ulama
ushul dan kalam telah mendefinisikan al-Qur’an dengan definisi yang beragam.
Dalam pandangan ahli bahasa, al-Qur’an adalah nama perkataan Allah yang
memiliki mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Ulama fikih dan
usul memberikan definisi al-Qur’an yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada
Muhammad saw., membacanya dinilai sebagai ibadah, dinukilkan secara mutawatir
mulai dari surah al-Fatihah sampai ke akhir surah al-Nas. Sedangkan ulama kalam
memberikan pengertian al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berdiri sendiri, bukan
berupa huruf, bukan makhluk dan tidak dengan suara.[11]
Dari beberapa definisi
di atas bisa disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah yang berupa
mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.
Batasan: kalam Allah
yang berupa mukjizat telah menafikan selain kalam Allah, seperti kata-kata
manusia, jin, malaikat, nabi atau rasul. Karena itu, hadits Qudsi ataupun
hadits Nabawi tidak termasuk di dalamnya.
Batasan: diturunkan
kepada Muhammad saw. telah mengeluarkan apa saja yang dikatakan sebagai
al-Qur’an, namun tidak mutawatir, seperti bacaan-bacaan Syaz, yang tidak
Mutawatir, yang telah diriwayatkan bahwa bacaan tersebut merupakan al-Qur’an,
namun ternyata diriwayatkan secara Ahad, maka bacaan tersebut tidak bisa
dianggap sebagai al-Qur’an.
Misalnya, bacaan Ibn
Mas’ud terhadap firman Allah swt. dalam Q.S. al-Maidah/5: 89.
…فَمَنْ لَمْ يَجِدْ
فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّام (89) ….
….Barangsiapa tidak sanggup
melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari…[12] yang
beliau tambahkan dengan: Mutatabi’at (berturut-turut),  atau bacaan beliau
terhadap firman Allah dalam Q.S. al-Nisa/4: 20.
…وَءَاتَيْتُمْ
إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا (20)…
…Sedang kamu telah
memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah
kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun…[13] yang juga beliau
tambahkan dengan: Min Dzahab [in] (dari emas), setelah lafadz: Qint}ar[an]
(harta yang banyak). Jadi penggantian, penambahan atau yang sejenis dari
bacaan-bacaan tersebut tidak layak disebut al-Qur’an, bahkan disebut hadits
Nabawi juga tidak boleh, karena bacaan-bacaan tersebut telah dinisbatkan kepada
pembacanya. Maka, ia tidak lebih dari sekedar tafsir, atau pandangan bagi orang
yang menetapkannya.
Mengenai batasan
terakhir: dinilai beribadah ketika membacanya telah mengeluarkan hadits Qudsi,
meski ia dinisbatkan kepada Allah. Sebab, membacanya tidak bernilai ibadah,
sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian.
3. Pengertian Ulumul
Qur’an
Adapun yang dimaksud
dengan Ulumul Qur’an dalam terminologi para ahli ilmu-ilmu al-Qur’an seperti
diformulasikan Muhammad ‘Ali al-S}abuni adalah sebagai berikut:
يقصد بعلوم القرآن
الأبحاث التى تتعلق بهذا الكتاب المجيد الخالد من حيث الترول، والجمع،
 الترتيب والتدوين ومعرفة اسباب الترول والمكي منه والمدنى ومعرفة الناسخ
والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الأبحاث الكثيرة اتى تتعلق بالقرآن العظيم
او لها صلة به[14].…
“Yang dimaksud dengan
Ulumul Qur’an ialah rangkaian pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an yang
agung lagi kekal, baik dari segi (proses) penurunan dan pengumpulan serta
tertib urutan-urutan dan pembukuannya, dari sisi pengetahuan tentang asbabun nuzul,
makiyyah-madaniyyah, nasikh-mansukhnya, muhkam mutasyabihnya, dan berbagai
pembahasan lain yang berkenaan dengan al-Qur’an.”
Dari definisi Ulumul
Qur’an di atas, dapat dipahami bahwa yang menjadi objek utama dari kajian
Ulumul Qur’an adalah al-Qur’an itu sendiri.
Selain definisi di atas,
masih kita dapati pula definisi yang lain, seperti Manna‘ al-Qattan dalam
Mabah}is| fi Ulum al-Qur’an memberikan defenisi Ulumul Qur’an sebagai berikut:
العلم الذى يتناول
الأبحاث المتعلقة بالقران من حيث معرفة أسباب النزول, وجمع القران وترتيبه, ومعرفة
المكي والمدنى, والناسخ والمنسوخ, والمحكم والمتشابه, إلى غير ذلك مماله صلة
بالقران.[15]
“Ulumul Qur’an adalah
ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an
 dari sisi informasi tentang  Asbabun al-Nuzul (sebab-sebab turunnya
al-Qur’an), kodifikasi dan tertib penulisan al-Qur’an, ayat-ayat makkiyah dan
madaniyah, nasihk dan mansukh, ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dan hal-hal lain
yang berkaitan dengan al-Qur’an”.
Al-Zarqani dalam kitab
Manahilul Irfan fi Ulum al-Qur’an merumuskan definisi Ulumul Qur’an, ialah:
عُلُوْمُ الْقُرْآنِ هُوَ
مَبَاحِثُ تَتَعلَّقَ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ
وَتَرْتِيْبِهِ وَجَمْعِهِ وَكَتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ
وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ عَنْهُ وَنَحْوِ
ذلِكَ
nama-nama al-qur'an
Al-qur'an, kitab suci agama islam memiliki banyak nama. Nama-nama ini berasal dari ayat-ayat tertentu dalam Al-qur'an tendiri yang memakai istilah tertentu untuk merujuk kepada Alquran itu sendiri.
Nama-nama tersebut adalah:
Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)
  • Al-Furqan (pembeda benar salah)
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)
  • Adz-Dzikr (pemberi peringatan)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)
  • Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Al-Hukm (peraturan/hukum)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Alquran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra'd [13]:37)
  • Al-Hikmah (kebijaksanaan)
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Israa' [17]:39)
  • Al-Huda (petunjuk)
Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Alquran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)
  • At-Tanzil (yang diturunkan)
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, QS. Asy Syu’araa’ [26]:192)
  • Ar-Rahmat (karunia)
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)
  • Ar-Ruh (ruh)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)
  • Al-Bayan (penerang)
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)
  • Al-Kalam (ucapan/firman)
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)
  • Al-Busyra (kabar gembira)
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An Nahl [16]:102)
  • An-Nur (cahaya)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (Alquran). (QS. An Nisaa' [4]:174)
  • Al-Basha'ir (pedoman)
Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)
  • Al-Balagh (penyampaian/kabar)
(Alquran) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim [14]:52)
  • Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Alquran) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash [28]:51)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SUMPAH (QASAM) DALAM AL-QUR’AN

SUMPAH (QASAM) DALAM AL-QUR’AN A.       PENDAHULUAN Al-Qur’an merupakan kumpulan dari firman-firman Allah yang berperan sebagai p...